Bolehkah Penggunaan Ramuan Herbal dengan Obat Farmasi? Yuk, Mari Kupas Penjelasannya

Herbal adalah tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan atau nilai dalam pengobatan.

Dengan kata lain, semua jenis tanaman yang mengandung bahan atau zat aktif (dikutip dari laman Wikipedia).

Obat herbal berasal dari pengobatan tradisional yang mempunyai riwayat panjang turun temurun dari resep kuno nenek moyang atau berdasarkan penelitian herbalis terbaru.

Kita dapat temukan ramuan herbal (Jamu) dalam bentuk tablet, olesan, minyak esensial, kapsul, serbuk, teh maupun ramuan rebus/uap.

Adapula obat herbal berstandar dan fitofarmaka.

Bingung dengan istilah fitofarmaka?

Mari kita lanjutkan dengan penjelasan berikut.

Fitofarmaka adalah produk yang mengandung bahan baku atau ramuan berbahan dasar tumbuhan, hewan, sari pati dan mineral yang telah melalui uji klinis berbahan baku serta menjadi produk siap pakai.

Asumsi masyarakat terhadap obat herbal sangat beragam mulai dari yang sangat percaya dengan khasiatnya hingga enggan menggunakan obat medis sampai masyarakat golongan setengah percaya dengan mengombinasikan penggunaan obat medis.

Menurut Prof.Dr. Purwantyastuti, Sp.F(K) ahli pengobatan, dalam pemakaian obat farmasi dan obat herbal tergantung dari kandungan obat tersebut.

Pemakaian obat farmasi yang kita konsumsi, biasanya didampingi dengan petunjuk dan resep dokter.

Dan jika Anda mengonsumsi obat medis dan ramuan herbal secara bersamaan, sebaiknya diawasi sepengetahuan dokter.

Cara paling tepat yaitu membekali pengetahuan cukup agar senyawa aktif dalam ramuan herbal/jamu dan obat farmasi tersebut dapat bersinergi sehingga mampu membuat pengobatan lebih optimal.

Disaat obat farmasi dam herbal dengan kandungan yang sama diberikan bersamaan, bisa saja terjadi dampak yang menguntungkan atau bahkan merugikan kesehatan si pengonsumsi.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam mengombinasikan obat herbal dan obat farmasi.

Traditional Chinese Herbs

Beberapa contoh seperti penggunaan pada penderita diabetes, saat obat metaformin dan teh hitam dikonsumsi bersamaan justru membuat penurunan kadar dalam gula darah  (HBA1C) sangat kecil.

Namun bila kedua obat tersebut dikonsumsi secara terpisah, mampu menurunkan HBA1C dalam kurun waktu 1 hingga 3 bulan.

Contoh lain, yaitu ginseng tidak boleh digabung dengan obat Digoxin (obat farmasi untuk jantung) karena dapat memperburuk kondisi jantung Anda.

Bawang putih tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat Asetasol atau Clopidogrel karena dapat menimbulkan perdarahan.

Aloevera tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat diabetes (Glibenklamid). Mengonsumsi keduanya secara bersamaan akan menimbulkan efek adiktif. Efek ini akan memberikan antihiperglikemia yang lebih besar dan peningkatan resiko Hipoglikemia (turunnya kadar gula berlebihan dalam darah).

Pare/Parra/bittermelon, mengandung senyawa aktif sterol glukosida dan polipeptida karantin. Penelelitian membuktikan jika buah ini dikonsumsi secara bersamaan dengan obat diabetes seperti metaformin, glimidine dan glibenklamid akan menimbulkan adiktif. Memberikan efek antihiperglikemia yang lebih besar dan resiko hipoglikemia.

Dalam mengonsumsi obat herbal tidak boleh sembarangan apalagi bila dipakai dalam pengobatan farmasi secara bersamaan agar tidak mengalami efek samping negatif.

Lebih baik Anda dapat berkonsultasi dahulu dengan dokter.

Zat aktif obat farmasi umumnya lebih cepat diserap oleh tubuh. Adapun obat herbal, lebih lambat terserap tubuh dan bersifat mengikat zat dari obat kimia.

Tidak ada kepastian obat herbal dapat aman 100% dan tidak selamanya obat farmasi itu buruk. (team Netcare)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *